Profil Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan lulusan SMK jadi Desainer Kelas Dunia

Profil Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan jadi Desaiener Kelas Dunia - Terlahir berdasarkan keluarga menggunakan ekonomi pas-pasan tidak lantas menciptakan Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan berkecil hati. Mereka justru punya mimpi besar . Tak ada yang menyangka, dua saudara tertua beradik asal Salatiga, Jawa Tengah, ini sekarang sukses.
Mereka merupakan tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK). Arfian lulus berdasarkan SMKN 7 Semarang pada 2018. Adapun adiknya, Arie, menamatkan sekolah di SMKN tiga Salatiga pada 2018.  Tetapi, passion bidang teknik inheren erat pada diri Arfian dan Arie. "Sejak mini , kami menyukai hal-hal yg berbau desain," kata Arfian yg sempat sebagai penjual susu dan tukang tambal ban selepas lulus SMK ini.
Meski demikian, dulu beliau tidak punya kesempatan buat mendalami bidang desain secara formal. Arfian kerap meminjam personal komputer sepupunya buat mengasah kemampuan desain. Tak jarang pula, dia menjelajahi dunia maya buat belajar mengenai teknik desain.
Pada 2018, Arfian sempat bekerja pada Kantor Pos. Dari seorang penjaga malam, dia dipercaya menjadi petugas pada loket pengiriman surat. Dari pekerjaan itu, Arfian sanggup menabung buat membeli personal komputer bekas. "Dari tabungan terkumpul Rp 1,5 juta serta diberi tambahan uang menurut ayah, sampai aku mampu beli komputer," ujarnya.

Bermodal komputer bekas itu, Arfian mendirikan perusahaan desain, Dtech-Engineering pada 2018. Dtech adalah perusahaan desain mekanik. Lingkup usaha mereka merupakan mechanical engineering, mechanical designing, product design, dan finite element analysis.
Tak perlu menunggu usang, Dtech pribadi menerima klien yang berbasis pada Jerman. Arfian menyampaikan, tidak sulit mendapatkan klien internasional. "Saya daftar di salah satu situs freelance, Elance.com. Lewat situs itu, seluruh perusahaan yg butuh energi desain sanggup langsung menghubungi Dtech," istilah dia.
Proyek pertama Dtech adalah  menciptakan desain komponen indera ukur perangkat medis. Dari proyek pertamanya, Dtech mendapat penghasilan 15 dollar AS, yg eksklusif terpakai buat membeli software pendukung proses desain.
Tak hanya buat mencari proyek, situs itu pula memungkinkan klien Dtech menaruh feedback. Jadi, calon klien sanggup tahu kualitas pekerjaan Arfian serta Arie. Hal ini memungkinkan Dtech mengantongi referensi. Bahkan, klien sanggup menaruh nilai kepuasan bekerja sama menggunakan Dtech.
Selama 5 tahun berjalan, Dtech selalu menerima nilai rupawan dalam hal kualitas. Terbukti, customer satisfaction ranking perusahaan ini mencapai angka 4,98 dari lima. Elance.com menjadi situs freelance terbesar di global malah memberikan nilai lima dari 5.
Di samping itu, lebih kurang 40 %–60 persen klien Dtech adalah repeat customer. Bahkan, Arfian dan Arie acapkali menolak proyek. Bukannya arogan atau pilih-pilih, penolakan itu karena proyek yg tiba pada waktu bersamaan terlalu banyak. Maklum, Dtech hanya tim mini yg terdiri menurut tujuh orang. "Dalam sebulan, ada sekitar 30–40 order yg terpaksa nir diterima," tandas Arfian.
Sejauh ini, Dtech sudah melayani lebih menurut 150 klien menurut berbagai belahan dunia, misalnya Amerika, Eropa, Singapura, Australia, dan Selandia Baru. Order yang diterima pun sangat majemuk, mulai berdasarkan menciptakan gantungan kunci yang kecil sampai membuat sasis mobil dan ultralight aircraft.
Setiap bulan, Arfian biasanya mengerjakan 10 sampai 20 proyek. Tetapi, bila proyek yg dikerjakan berskala besar , mereka hanya menerima 5 proyek. Tiap proyek desain dikerjakan dalam kurun ketika yg sangat beragam. "Ada proyek yang selesai dalam waktu beberapa jam, tetapi ada jua yang sampai setahun," ucap dia.
Kerja sama dengan klien tidak hanya berdasarkan proyek. Arfian menyampaikan, ada jua klien yg menerapkan sistem kontrak selama enam bulan. Tarif yang dipatok Arfian dan Arie saat ini sekitar Rp 175.000 atau kurang lebih 15 dollar AS–20 dollar AS per jam buat tiap orang.
Tertipu klien
Bekerja sama menggunakan klien berdasarkan luar negeri dianggap keduanya menjadi pengalaman menarik. Menurut pengamatan mereka, klien mancanegara lebih terbuka serta fleksibel.
Meski tak punya gelar akademik, klien tak pernah meremehkan karya mereka. "Klien tidak mempermasalahkan ijazah, tidak sama klien lokal yg masih memandang gelar," istilah Arfian.
Namun, Arfian pernah punya pengalaman buruk soal klien. Karena komunikasi hanya lewat e-mail serta Skype, Dtech pernah ditipu klien dari Amerika. Pada 2018, mereka menerima proyek buat membuat pulpen berbahan aluminium. Mereka telah mengerjakan 30 persen dari total 400 buah pulpen yang diminta. Namun, pesanan itu ternyata tidak dibayar.
Pengalaman pahit itu tak membuat mereka patah arang. Malahan, selesainya insiden itu, Arfian serta Arie semakin bersemangat mencari order baru. Tahun lalu, contohnya, Dtech dianggap mengerjakan proyek serupa menggunakan tadi, yakni membuat pulpen eksklusif, menurut bahan alumunium serta batok kelapa. Pulpen tersebut lantas terjual dengan harga 79 dollar AS–99 dollar AS per unit.
Dengan pencapaiannya ini, Arfian serta Arie tidak pelit menyebarkan ilmu. Tahun ini, mereka mulai membuka kelas perdeo buat orang-orang yg punya minat serupa. "Kami telah belajar poly berdasarkan klien, jadi sekarang kami mau membuatkan juga menggunakan anak muda lain yg tertarik bidang design engineering," istilah Arfian.
Selain itu, masih ada mimpi yg ingin diwujudkan sang Arfian, yakni melanjutkan kuliah. Alih-alih merogoh jurusan teknik atau desain, Arfian justru lebih tertarik mengusut usaha. "Kalau bidang yang kini bisa saya pelajari berdasarkan buku, internet, atau sahabat-sahabat. Namun, saya mau mendalami usaha buat membesarkan Dtech," celoteh dia.  
"Ngetop" seusai mengalahkan lulusan Oxford
Meski telah menggeluti usaha desain mekanik sejak 2018, baru tahun ini nama Arfian Fuadi dan M Arie Kurniawan dikenal poly orang. Kakak beradik ini tenar setelah memenangkan kompetisi 3D Printing Challenge yang diadakan General Electric, beberapa bulan lalu.
Arfian serta Arie berhasil merancang komponen pesawat jet generasi modern. Sebelumnya, berat komponen yang orisinil mencapai dua.033 gr. Mereka sanggup mengurangi bobotnya menjadi hanya 327 gram.
Prestasi ini mencuat lantaran kompetisi itu diikuti oleh insinyur berdasarkan banyak sekali penjuru dunia. Arfian serta Arie keluar sebagai juara pertama mengalahkan seorang doktor dari Swedia dan lulusan Oxford University yang bekerja pada perusahaan Airbus.
Alhasil, pencapaian itu menciptakan branding Dtech Engineering menjadi perusahaan berskala internasional makin mantap. "Lantaran terdapat pula klien yg tiba lantaran memahami kami memenangkan kompetisi itu," ucap Arfian.
Banyak orang Indonesia menduga angker pasar global. Padahal, menurut Arfian serta Arie, pasar global justru lebih menjanjikan. Kualitas menjadi kapital untuk bertarung pada pasar internasional. Lagi jua, usaha di pasar dunia mampu dimulai menurut partai kecil.
Arfian mencontohkan pengusaha furnitur yg mau mengekspor produknya. "Banyak pengusaha berpikir pasar luar itu susah, harus modal akbar serta quality control yg ketat. Padahal, yg penting dimulai saja dari partai kecil," ujarnya.
Setidaknya, terdapat 2 kunci sukses bila mau berbisnis pada pasar global, yakni inspirasi serta hukuman yang mengagumkan. Tren pasar global yang selalu berubah pula harus diikuti perkembangannya. "Kalau tentang desain atau manufaktur, sanggup belajar secara belajar sendiri. Namun, wangsit dan hukuman wangsit itu hal mahal, yang nir dimiliki semua orang," tutur Arfian. (Marantina)
sumber : //bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/12/14/090900426/Kalahkan.doktor.lulusan.oxford.kakak.adik.ini.mendunia.?Utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp